Aku masih ingat betul aroma ini. Kuhirup sedikit lebih dalam. Tanpa sadar mataku terpejam. Aroma yang secara otomatis menggiringku ke masa yang kini ingin ku lupakan. Aroma yang bersumber dari pria tulus dengan senyum alakadarnya. Pria lugu yang jemarinya tak henti menari diatas dawai, menyenandungkan rasa yang telah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun terkubur rapi dalam angan. Pria yang mampu menundukkan wanita yang senantiasa menjujung tinggi keangkuhannya.
Ah..sudahlah..kembali pada perkara aroma.
Aku membeli lagi wewangian yang sama sebagai kado ulang tahunmu tahun lalu. Matamu begitu berbinar, meski kau tak yakin betul bahwa ini benda yang sama. Benda yang pernah sama-sama kita cinta. Yaa..aku begitu mencintai wewangian. Bagiku, wewangian tak jauh beda dengan alat perekam memori. Wewangian mampu melemparkan dan menjatuhkanku ke masa-masa yang tak mampu ku ingat dengan benda-benda lain. Wewangian juga mampu membuatku kembali merasakan pedihnya luka. Wewangian jugalah yang mampu membuatku tersenyum simpul, menertawakan masa-masa ketika otakku sedang tumpul.
Kau bilang tak mau memakainya. Sayang, katamu. Sedih dalam hatiku. Tapi ya sudahlah.
Tiba-tiba kau berdiri dimuka kamarku dengan membawa aroma yang sama seperti tujuh tahun lalu. Mengemas rapi seonggok kesadaran bahwa kau telah kehilangan. Kini hanya sebotol kenangan itu yang kau punya. Yang aromanya akan hilang seiring dengan langkahku meninggalkanmu. Ingin rasanya ku menutup semua inderaku. Indera yang seketika menajamkan ingatanku. Indera yang membuatku gugur seperti dedaunan yang rela terpisah dari ranting saat kau mengiba. Mengiba. Dan terus mengiba. Hingga ku tersadar saat semua telah berlangsung begitu lama. Aku lupa, aromamu ternyata hanya sementara. Menguap begitu saja. Meninggalkan luka yang sembuhnya tak semudah kau menyemprotkan cairan wewangian ketubuhmu. Luka yang sembuhnya tak secepat hilangnya aroma wewangian itu. Aku tak ingin menghirupnya lagi. Bahkan untuk melihat botolnya pun tidak. Aku ingin menjaga setiap indera yang ku punya agar aromamu tak lagi menyusup gugup dalam degup. Biarkan angin membawa pergi jauh aroma-aromamu, terbang bersama hatiku yang telah dingin.
-22 Agustus 2013-
0 Comments