Hadirmu menggemakan tawa renyah disepanjang malamku. Menggaung lembut menyentuh setiap sisi dinding hatiku. Hingga ku lupa bahwa aku sedang diracuni ragu. Lupa bahwa kau sedang menyayatku dengan sembilu. Lupa bahwa aku belum sembuh dari luka. Lupa bahwa kau belum ku miliki seutuhnya.
Ku jauhkan pandangku dari benda berdetik yang selalu membatasi perjumpaanku denganmu. Aku pura-pura buta. Aku pura-pura tuli. Menjauhkan suara-suara selain suaramu. Iya!! Hanya suaramu. Aku tiba-tiba menjadi manusia tanpa perhitungan. Tak ingin memperhitungkan berapa lama lagi aku bersamamu. Tak ingin memperhitungkan berapa lama lagi aku mendengar celotehmu. Tak ingin memperhitungkan berapa lama lagi tanganku kulingkarkan ditubuhmu. Benar-benar tak ingin. Hanya ingin kunikmati. Hanya ingin selalu mendapatimu ada disisiku. Selain itu, TIDAK.
Sekejap saja ku lengah dalam lelah. Mataku terpejam dalam temaram. Meringkuk tanpa kikuk dengan balutan tubuhmu yang tak lepas memeluk. Gelap malam tak tega terlalu cepat mempertemukanku dengan sang fajar. Tapi apalah mau dikata. Mentari memang tak pernah ingkar janji untuk selalu menyapa pagi. Meski kurasa terlalu dini. Dan kau tahu, aku masih ingin disini. Selalu disini malah. Memeluk raga tanpa peduli kau milik siapa. Mencumbumu manja tanpa peduli ada permaisuri yang masih meraja. Tak teraba namun aku mampu merasa. Meski mulutmu mengunci rapat dari segala cerita. Namanyapun masih ingin selalu kau puja.
Kini waktuku kembali menatap realita. Menyadari bahwa sepanjang malamku hanya sebuah isapan jempol belaka. Hanya rentetan roman picisan yang kan lekang oleh jaman. Memang kisah kita tak nyata. Seperti kau yang hanya menginginkan raga bukan jiwa. Bahkan separuh nyawamu masih ada dunia yang berbeda. Entah dibelahan dunia bagian mana. Yang tersisa pagi ini hanya angkuh yang tak pernah enggan merengkuh. Melakoni skenario demi skenario hanya demi menutupi ego. Kepura-puraan dan kemunafikan seketika larut dalam aliran darah. Menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Meski hati kita makin parah disesah.
Mana yang sebenar-benarnya alamku? Tak mampu lagi kubedakan. Ambigu. Aku selalu menemukanmu disepanjang pagi dan malamku. Namun keduanya sama-sama tak nyata bagiku. Sama-sama semu.
-22 Agustus 2013-
0 Comments