Jangan kau tanya apa yang aku cari. Karena akupun tak pernah paham apa yang aku cari. Dia beri perhatian, aku tuntut kesungguhan. Dia beri kesungguhan, aku tuntut kepastian. Dia beri kepastian, aku malah berlarian. Dia perhatian, aku bilang berlebihan. Dia acuh, aku mengeluh. Dia banyak bicara, aku bilang “sudahlah..buat apa..”. Dia bungkam, aku muram. Sekarang aku kehilangan. Perhatian, kesungguhan, kepastian. Dan aku masih berlarian. Berlarian mencari pegangan. Aku ketakutan. Takut kalau aku kembali menghadapi kehilangan. Takut kalau aku kembali mengajukan rentetan persyaratan. Bukankah itu merepotkan?
Mungkin aku sudah menemukan apa yang aku rindukan. Meski tak cukup meyakinkan. Kembali lagi aku mempertimbangkan. Apakah kau mampu memantapkan? Apakah kau bisa ku andalkan? Apakah kau mau memperjuangkan? Kau tak kalah acuh. Bisa jadi, aku akan lebih sering mengeluh. Kau pun tak kalah bungkam. Bisa jadi, aku juga akan lebih sering muram. Namun jiwa ini tenteram ditengah suasana yang mencekam. Kadang aku hanya bisa memendam geram. Atau sekedar berceletuk untuk menyerah kalah karena lelah. Padahal hati ini masih ingin terus kau jamah, meski terus-terusan kau bawaku menyusuri lembah.
Bagaimana cara ku tahu apa yang tengah menyala terang dipikiranmu? Atau yang tengah meredup dihatimu? Bukankah kau tahu, aku bukan ahli nujum. Menatap geliatmu dengan segumpal bola kristal atau hamparan layar kehidupanmu sambil mengulum senyum. Arah anginmu begitu mudah berubah. Sebentar gagah, sebentar lemah. Sebentar mantap, sebentar gagap. Sebentar teguh, sebentar rapuh. Kau bilang “aku tak tahu”, aku makin ragu. Aku berkemas, kau meremas. Ketika hatiku tercuri, katamu aku tak tahu diri. Kau ingin ku bersemayam, tapi kau diam tenteram dalam temaram. Kau tak berlari. Kau tak mencari. Tak juga peduli. Tapi tak kau relakan seorangpun menghampiri. Katamu mereka merebut konsentrasi yang selama ini ku beri. Apakah kau sungguh-sungguh mencintai? Atau hanya sebatas obsesi? Ah, lagi-lagi aku hanya bisa meraba-raba. Meraba-raba keyakinanmu yang semakin remang. Tak cukup mampu kulihat dengan mata telanjang. Mungkin aku hanya bisa bersiap, waktu yang tepat akan melenyapkan cinta dalam senyap. Sama ketika cinta ini datang mengendap-endap dalam gelap.
-21 Agustus 2013-
0 Comments