Berhenti bicara tentang akhir, ketika kau masih menginginkan semuanya mengalir. Tak sadarkah kau, bahwa setiap aksara yang kau racik buatku terusik? Membuatku semakin gagap dalam menatap.
Berhenti bicara tentang akhir, ketika kau masih menikmati rasa yang baru saja terlahir. Mengapa bukan ragumu saja yang kau usir? Agar langkah kita sepasti pagi.
Berhenti bicara tentang akhir, ketika harapanmu masih tak terhitung seperti butiran pasir. Sampai kapan ku harus menggenggamnya? Atau haruskah segera ku urai kisah yang sedang ku untai?
Berhenti bicara tentang akhir, ketika kau masih buatku mengemis bagai fakir. Pantaskah kau ku bela dengan setiap nafas yang ku hela? Bukankah kau masih merasa terjegal dengan kisah yang sepenggal?
Berhenti bicara tentang akhir, ketika genggaman tangan kita masih sanggup luruhkan getir. Bolehkah kurekam tawa renyahmu dalam relung hatiku? Tawa yang selalu kau perdengarkan di pagi siang dan malamku.
Berhenti bicara tentang akhir, ketika pelukmu masih sanggup menghapus air mataku yang tak henti bergulir. Mengapa kau ingin bergegas, meninggalkan hati yang telah tandas? Bermalamlah dalam nyenyak, agar jiwa ini tak lagi terdesak.
-31 Juli 2013-
0 Comments