Aku terjaga merasa bergelora,
mengingat setiap bahasa canda kita
Aku meraba tanya apakah kita hanya fatamorgana
Dekat kau tetapkan mantap, saat jauh selalu ragumu melanda
Tak nyata memang telaga kita
Airnya keruh, bergemericik keluh
Menghampar hambar ketika bungaku layu di pelataran hatimu
Malam kau kulum senyum, pagi kau sentuh rapuh
Malam kita berpeluh, pagi kita mengeluh
Segar sementara kita bertemu, menggemakan degup yang bertalu-talu
Namun redup sementara saat jauh dari jangkauanmu
Meniupkan ragu seiring anginku yang tak tentu
Pengap rindu memecah batu
Menyelami keringnya sungaiku
Namun, seperti mata air di dasar batu
Demikian hatiku tertuju padamu
Senantiasa hadir, tak henti mengalir
Tak bisa terbendung
Walau bersamamu kan bernaung awan mendung
-16 Agustus 2013-
0 Comments