Gemerisik dedaunan yang tengah asyik bersentuhan, mengiringi langkah kita menyusuri jalanan menuju persinggahan orang-orang yang mulutnya sibuk merapal doa kepada pemilik semesta. Sengat sang bagaskara tak menjadi kendala. Tak sebanding dengan lara yang kan kita tumpahkan dalam lantunan doa. Semacam perjalanan tak terencana. Tapi bagiku sangat bermakna. Tak ku duga, akhirnya kita mau meluangkan sepersekian waktu untuk bersimpuh menundukkan angkuh. Tak sekedar ingin mengeluh. Tapi meletakkan jiwa yang rapuh untuk sejenak saja DIA sentuh. Meski dengan sadarku, DIA kan melakukan bagian-NYA tanpa kita suruh.
Tak tahu doa apa saja yang akan kita panjatkan. Mengingat-ingat bak anak sekolah yang tengah mengerjakan soal-soal ujian. Tanpa ada persiapan. Tak kusiapkan catatan. Tidak juga secarik contekan. Namanya juga perjalanan dadakan. Jadi semuanya nampak serba instan.
Mata terpejam, mulut komat-kamit layaknya orang menggumam dengan kedua pasang tangan saling menggenggam. Menumpahkan sesaknya jiwa seolah sosok yang kita sembah duduk saling bersebelah. Menunduk menyembunyikan wajah menahan air mata yang hendak tertumpah. Kita tak layak. Tak layak menuntut banyak. Sedangkan kita tak henti-henti membuat hati-NYA terkoyak. Siapakah kita? Bertingkah seolah kita adalah manusia yang paling sempurna. Menunjuk bahkan mencaci tanpa toleransi atas kondisi yang orang-orang alami. Betapa kecilnya kita dihadapan-NYA. Bukan hanya debu. Tapi abu. Bisa saja kita disapu sewaktu-waktu DIA mau. Dan dengan mudahnya pula DIA ramu manusia baru yang tak lagi membuat-NYA pilu.
Pantat ini masih ingin melekat dibangku coklat, sambil menunggu terik sang bagaskara tak terlalu menyengat. Bibir kita sibuk mengolah kata, menyusunnya menjadi serentetan cerita. Tanpa jeda. Sesekali menyelipkan cerita jenaka yang membuat kita sejenak larut dalam tawa. Seolah kita adalah sepasang sutradara ternama yang sedang mereka-reka sandiwara. Mungkin memang kita ahlinya. Tapi kali ini kita adalah sutradara yang ikut terlibat dalam cerita. Tepat sekali!! Kitalah tokohnya. Ah sudahlah..saat ini bukan itu yang menjadi topik utama.
Mata kita sesekali melirik sang bagaskara yang masih saja terik. Diiringi nyanyian burung-burung yang bersahutan memekik. Iri ku dibuatnya, seolah mereka tak pernah menghadapi persoalan pelik. Bebas dari rasa cemas.
Waktu memang tak tahu diri. Tak bisa sejenak saja membuat wajah kita berseri. Maunya hanya berlari dan terus berlari. Memaksa kita untuk segera beranjak dari tempat ini. Menyeret kita untuk berani menghadapi kenyataan yang terkadang hanya menyisakan nyeri. Ditempat ini segala beban kita tinggalkan. Melakukan pembuktian demi pembuktian, bahwa kita bukan makhluk kacangan yang DIA ciptakan dengan sembarangan. Ku biarkan tangan kita tetap bergandengan. Saling menguatkan saat kita mulai lelah dalam perjalanan meniti masa depan.
-27 Agustus 2013-
0 Comments